By - admin

IMAJINASI DEKOLONIAL 91 TAHUN GPM

Oleh: Pdt Rudy Rahabeat (Ketua Majelis Jemaat GPM Sion Ambon)

Momen ulang tahun adalah momen evaluasi, otokritik dan proyeksi ke masa depan. Apa saja capaian-capaian dalam memaknai hidup dan keterbatasan-keterbatasan serta komitmen melangkah ke depan dengan lebih optimal. Ulang tahun tidak sebatas seremoni dengan pernak-perniknya melainkan kesempatan untuk membarui diri dan memastikan arah hidup yang berdampak. Sebagai sebuah lembaga sekaligus persekutuan orang beriman Gereja Protestan Maluku (GPM) memasuki usia 91 tahun pada tanggal 6 September 2026. Adapun tema HUT ke-91 GPM adalah : “ Bersyukur dan Tekunlah Bermisi dengan Takut Akan Allah. Berikut tiga catatan reflektif di momen historik ini.

Pertama, Bersyukur yang eksistensial. Bersyukur bukan sekedar ekspresi kegembiraan dan rasa senang atas apa yang diperoleh. Umur panjang, kesehatan, kesuksesan dapat membuat hati senang dan pikiran tenang. Tetapi bagaimana jika yang dialami adalah kegagalan, sakit , turbulensi, kesulitan dan kebuntuan-kebuntuan hidup. Apakah rasa syukur menjadi redup dan hilang? Apakah bersyukur itu hanya saat momen-momen keberhasilan? GPM telah melintasi masa-masa pergumulan yang tidak mudah. Keputusan mandiri pada 6 September 1935 di saat bangsa Indonesia masih dalam cengkeraman penjajah Belanda bukanlah sebuah keputusan yang mudah. Demikian pula setelah kemerdekaan 1945 GPM melintasi gelombang-gelombang sejarah politik dan sosial yang penuh dinamika. Orde Lama, Orde Baru dan Orde Reformasi. Dinamika internal dalam momen Pesan Tobat 1960, tragedi Kemanusiaan 1999, pandemi Covid 19 serta aneka krisis yang dialami GPM, semua itu tidak membuat GPM redup dan tumbang. Justru semakin didewasakan dalam medan sejarahnya. Olehnya, bersyukur adalah sebuah pernyataan iman gereja. Sebuah pernyataan eksistensial. Bahwa GPM ada karena anugerah Tuhan. Bahwa Tuhan itu baik, sesungguhnya untuk selama-lamanya kasih setiaNya (Mazmur 136).

Kedua, Misi Dekolonial. Dapat dikatakan bahwa misi GPM sejak 6 September adalah misi dekolonial, membuka belenggu-belenggu penjajah. Belenggu-belenggu kelaliman (Yesaya 58). Penjajah dalam konteks ini adalah kuasa-kuasa demonik, kuasa yang menindas dan menghempas. Kuasa yang merobek hasrat kemanusiaan dan keutuhan ciptaan. Boleh dikatakan keputusan kemandirian GPM adalah benih-benih kemerdekaan. Merdeka dari belenggu-belenggu ideologis, politik, sosial budaya. Hendrik Kraemer seorang misiolog awam Belanda menyebutkan bahwa missi selalu mengalami transformasi. Ia membuka perspektif bermisi dalam konteks pluralisme sebagaimana judul bukunya The Christian Message in a Non-Christian World (1938). Kraemer jugalah yang membawa pesan-pesan pembebasan dari gereja-gereja yang mandiri termasuk GPM. From Missionfield to Independent Church: Report on a Decisive Decade in the Growth of Indigenous Churces (1958) adalah laporan empatik kepada gereja-gereja sejagad untuk memaknai misi secara baru (re-mission). Jejak-jejak kesadaran dan gagasan itu kemudian dikembangkan dalam lintasan sejarah GPM. GPM mengembangkan paradigma misi yang bertumpu pada frase “memanusiakan manusia” dan Injil yang utuh. GPM tidak terbelenggu paradigma missi yang triumpalistik, melainkan missi yang dinamis dan transformatif sambil tetap berakar pada Injil. Di era digital saat ini GPM mengembangkan missi yang peka konteks zaman. PIP-RIPP GPM Dasawarsa V tahun 2026-2030 menegaskan bahwa GPM memasuki fase “pelayanan berkualitas di era teknologi digital”. Ini adalah ladang misi GPM yang kontekstual. GPM hadir untuk membebaskan umat dari belenggu-belenggu digital dan pada saat yang sama mendayagunakan era digital sebagai kekuatan transformasi sosial berbasis Injil yang membebaskan dan memerdekakan.

Ketiga, Imajinasi Menuju Satu Abad GPM. Imajinasi bukanlah khayalan apalagi ilusi. Imajinasi adalah daya refleksi dan profleksi melintasi ruang dan waktu. Dalam imajinasi ada keberanian untuk melakukan kritik diri (otokritik), optimisme yang melampaui realisme. Imajinasi dalam pengertian tertentu adalah bagian dari iman. Orang-orang  Barat tempo dulu mengimajinasikan Orang Timur dan wilayahnya sebagai yang eksotik, barbar, tidak beradab. Olehnya mereka mengklaim membawa misi pemberadaban. Padahal itu hanya kedok pembaratan (westerninasi). Edward Said dalam bukunya Orientalism (1979) melakukan kritik keras terhadap imajinasi kolonial itu. Ia mempersoalkan relasi kuasa yang tidak adil. Darinya teori poskolonial dan dekolonial mendapat angin segar. Dalam lensa dekolonial pula kita hendak mengimajinasikan tatanan dunia bersama yang adil, egaliter dan membebaskan. Dunia yang bebas dari diskriminasi, rasialisme, praktek penindasan modern melalui ideologi kapitalisme dan oligarki. Sebuah dunia yang damai, seperti disuarakan John Lennon dalam kidungnya Imagine. Atau meminjam imaji kitab Wahju, merindukan hadirnya langit baru dan bumi baru. Sebuah tatanan kehidupan bersama yang sejahtera, sesuatu yang memang harus diperjuangkan dengan iman dan pengharapan oleh gereja. GPM adalah komunitas pengharapan. Ia terus berlayar di pusaran arus zaman sambil tetap mempercayakan arah sejarahnya kepada Sang Nahkoda Agung (Yesus Kristus) yang sedang membawa gerejaNya bahkan dunia ini ke pantai yang tenang atau meminjam analogi Mazmur 23, ke padang rumput hijau dan air yang tenang tanpa menafikan realitas padang gurun kehidupan. Ini sebuah imajinasi teologis, bukan ilusi. Selamat Hari Jadi ke-91 Gereja Protestan Maluku (GPM). Tuhan menyertai kita semua ! (RR).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.
*
*